Api Perubahan yang Tak Pernah Padam
Kartini dan Mahasiswi Setiap 21 April, kita tak hanya mengingat nama R.A. Kartini sebagai tokoh sejarah, tapi sebagai simbol dari keberanian yang melampaui zamannya. Di tengah kungkungan adat dan batasan sosial, ia menyalakan obor harapan bagi perempuan agar bisa meraih pendidikan dan berpikir bebas. Surat-suratnya bukan sekadar kata, tapi perlawanan yang halus namun tegas terhadap ketimpangan yang saat itu dianggap biasa.
Kini, di ruang-ruang kelas universitas dan forum akademik, jejak langkahnya masih terasa. Perempuan bisa memilih ilmu apa pun, mengisi ruang kepemimpinan, dan berani bersuara. Tapi perjalanan belum usai, sebab bentuk-bentuk pembatasan tak serta-merta lenyap—ia hanya berganti rupa.
Mahasiswi dan Tantangan Era Baru
Zaman memang berganti, tetapi tekanan terhadap perempuan tak serta-merta hilang. Mahasiswi hari ini mungkin tak dilarang belajar, tapi sering dihadapkan pada ekspektasi Kartini dan Mahasiswi yang tak kalah menyesakkan: dianggap terlalu ambisius, “kurang feminin” karena memilih jurusan teknik, atau didesak untuk menundukkan mimpi demi norma sosial.
Maka, perjuangan kini tak lagi tentang membuka pintu pendidikan, melainkan tentang mempertahankan kendali atas pilihan hidup. Inilah medan baru tempat semangat Kartini diuji kembali—dalam bentuk keberanian untuk tidak mengecilkan diri.
Pendidikan: Lebih dari Sekadar Masuk Kelas
Menghargai perjuangan Kartini tak berhenti pada seremoni atau peringatan simbolik. Ia terwujud saat mahasiswi berani memilih jalan tak biasa, aktif berdiskusi, ikut riset, atau menyuarakan gagasan yang mungkin tak populer. Belajar hari ini adalah ruang untuk membangun gagasan, bukan sekadar menghafal teori.
Berkarya, menyusun tulisan, membuat podcast, mendirikan komunitas—itulah bentuk aktualisasi yang tak bisa diremehkan. Perempuan butuh ruang untuk bercerita, dan suara mereka penting dalam membentuk narasi yang lebih adil.
Perempuan dan Solidaritas: Bukan Jalan Sendiri
Kartini tak bicara hanya tentang dirinya. Ia menulis demi perempuan lain, demi mereka yang suaranya tertahan oleh sistem. Dari sana kita belajar: perjuangan yang berdiri sendiri akan cepat lelah. Tapi saat perempuan saling menopang—memberi ruang aman, berbagi cerita, menjaga energi satu sama lain—di situlah kekuatan itu tumbuh.
Di lingkungan kampus, bentuknya bisa sederhana: saling memberi semangat, menghindari sikap menjatuhkan, hingga menciptakan ruang diskusi yang jujur dan setara. Keberpihakan satu sama lain adalah bentuk nyata penghormatan terhadap semangat yang dulu diperjuangkan Kartini.
Dari Kampus, Untuk Perubahan Nyata
Menghidupi semangat Kartini tak harus megah. Ia bisa lahir dari langkah kecil—ikut organisasi, menggagas program pemberdayaan, menyuarakan ketimpangan di kelas, atau melibatkan diri dalam proyek sosial. Apa pun bentuknya, jika dilakukan dengan niat tulus dan kesadaran akan dampaknya, maka itulah perjuangan sesungguhnya.
Menjadi Cahaya di Era Sendiri
Kartini pernah menyalakan cahaya di tengah gelap. Kini, giliran generasi mahasiswi melanjutkan nyalanya dengan cara yang relevan dengan zaman. Pendidikan, gagasan, dan solidaritas adalah jalan panjang yang harus terus dilalui. Karena setiap perempuan punya hak untuk bersinar, tanpa takut redup oleh suara yang meremehkan.
STIE IGI membuka peluang bagi Anda yang ingin meraih kesuksesan lebih tinggi melalui Program Pascasarjana Magister Manajemen (MM). Dengan kurikulum yang dirancang sesuai dengan kebutuhan industri serta didukung oleh dosen-dosen berpengalaman, STIE IGI siap membantu Anda menjadi pemimpin masa depan!
- Kunjungi website resmi STIE IGI di www.stieigi.ac.id
- Untuk mendapatkan informasi terbaru seputar program akademik, seminar, beasiswa, serta berbagai aktivitas kampus lainnya, ikuti akun Instagram resmi STIE IGI: @stieigi_official